fbpx

RANGKUL SAUDARAMU DENGAN PELUKAN SUNNAH

RANGKUL SAUDARAMU DENGAN PELUKAN SUNNAH

بسم الله الرحمن الرحيم

Alhamdulillah dakwah Sunnah semakin diterima oleh kaum muslimin di bumi Indonesia. Namun, sungguh disayangkan atas sikap sebagian saudara(i) kita yang kurang adab dalam bersikap terhadap saudara(i) mereka. Biasanya hal ini lahir karena semangat yang kuat dalam berpegang kepada Sunnah namun jahil dalam penerapannya di tengah masyarakat. Hal ini bisa jadi da’i-da’i di daerah tersebut jarang membahas adab-adab yang baik dalam berinteraksi atau bisa jadi tidak adanya da’i di daerah tersebut, melainkan sekumpulan orang yang mengenal dakwah Sunnah melalui Radio atau media lainnya tanpa ada yang membimbing mereka secara langsung.

Fenomena itu berdampak buruk bagi Dakwah Sunnah yang mulia ini, bagaimana tidak? Dakwah Sunnah tercoreng dengan ulah mereka. Kadang kita mendengar ocehan dari sebagian kelompok penyimpang: Salafi itu tidak beradab!.

Subhanallah! Padahal Ahlussunnah adalah kaum yang sangat mengutamakan adab. Oleh karena itu, Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Risalahnya yang terkenal “Al-Aqidah Al-Wasithiyyah” yang merupakan Risalah tentang Aqidah Ahlussunnah, beliau menyebutkan bahwa diantara Manhaj Ahlussunnah adalah mengajarkan Adab dan Akhlak.
Beliua rahimahullah berkata:

ويدعون إلى مكارم الأخلاق ومحاسن الأعمال، ويعتقدون معنى قوله صلى الله عليه وسلم:
“أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا”.

Mereka (Ahlussunnah wal Jama’ah) mengajak kepada akhlak yang mulia dan perbuatan yang baik, dan mereka meyakini makna sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا

“Kaum mu’minin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya.”
(HR.Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, shahih lighairih)

Ucapan emas di atas terkandung dua perkara:
-Bantahan kepada mereka yang menuduh bahwa Ahlussunnah itu tidak mengajarkan akhlak dan adab, dan bahwasanya mereka adalah orang-orang yang tidak beradab.
-Teguran bagi mereka yang mengaku Ahlussunnah, namun tidak berhias dengan akhlak yang baik dan mulia.

Beberapa kejadian yang kadang kita dengar bahkan kadang kita saksikan seendiri tentang kurangnya adab sebagian orang yang menyandarkan diri kepada Sunnah adalah hal yang dimaklumi. Kita melihat sebagian dari mereka saat ada pengajian, biasanya mereka berkumpul dan saling menyapa hanya kepada sesama mereka yang sudah lama saling mengenal. Sebagian saudara(i) kita yang baru mulai mencari tau apa itu Sunnah kadang tak diacuhkan, tidak digubris, bahkan kadang orang baru tersebut yang datang menyapa dan menyalami mereka, namun sayang, disambut dengan wajah tak bersahabat. Sebagian mereka ketika melihat wajah baru maka yang dipandang adalah pakaiannya, atau jilbab gaulnya, kalau dia seorang laki-laki maka yang dipandang adalah celananya yang masih isbal atau jenggotnya yang masih dicukur.

Ya Subhanallah!, ada apa dengan ini? Demi Allah, Ustadz-Ustadz Sunnah tidak mengajarkan hal ini. Jika ada ustadz Sunnah yang mengajarkan hal ini maka yakinlah dia bukan Ustadz Sunnah atau dia seorang Ustadz yang tidak paham apa itu Sunnah.!

Lebih parah lagi, ada sebagian orang yang kadang berprasangka buruk terhadap saudaranya. Ketika dia melihat ada seorang yang masih ikut di suatu organisasi atau kelompok tertentu baru muncul batang hidungnya di tempat kajian, maka serta merta dianggap mata-mata, atau prasangka buruk lainnya.

Duhai betapa bodohnya orang seperti ini! Tidakkah engkau berprasangka baik terhadapnya kalau ternyata dia menginginkan mengenal Sunnah sebagaimana engkau mengenal Sunnah? Bisa jadi dia hadir dengan hati yang ikhlas menginginkan dan mencari Ilmu tentang Sunnah melebihi keikhlasanmu.!

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ

Wahai orang-orang yang beriman! jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sebagian dari prasangka adalah dosa. (QS.Al-Hujurat:12)

Dan Rasulullah ﷺ bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ

Hati-hatilah kalian dari prasangka, sebab prasangka itu adalah ungkapan yang paling dusta. (HR.Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu).

Wahai saudaraku, sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mengajarkanmu bersifat lembut terhadap saudara(i)mu:

يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

“Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, Dia mencintai sikap lemah lembut. Allah akan memberikan pada sikap lemah lembut sesuatu yang tidak Dia berikan pada sikap yang keras dan sikap lainnya.”
(HR.Muslim)

Dari Aisyah radhiyallahu anha bahwasanya beberapa orang Yahudi datang kepada Nabi ﷺ sambil berkata: assāmu alaykum (kebinasaan atas kalian).
Rasulullah ﷺ menjawab: wa alaykum.

Maka Aisyah menjawab: “Semoga kebinasaan atas kalian juga, dan semoga laknat dan murka Allah juga menimpa kalian”.

Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

مهلا يا عائشة عليك بالرفق وإياك والعنف والفحش

Tenanglah wahai Aisyah, berlemah lembutlah dan janganlah kamu bersikeras dan berkata buruk.

Aisyah berkata:
Apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka katakan?

Beliau bersabda:
أولم تسمعي ما قلت؟ رددت عليهم فيستجاب لي فيهم ولا يستجاب لهم في

“Tidakkah kamu mendengar apa yang saya ucapkan? saya telah membalasnya, adapun jawabanku akan dikabulkan sementara do’a mereka tidak akan dikabulkan”.
(HR.Al-Bukhari dan ini lafaznya dan Muslim)

✅Berkata Al-imam An-Nawawi rahimahullah:

ﻭﻓﻴﻪ ﺣﺚ ﻋﻠﻰ اﻟﺮﻓﻖ ﻭاﻟﺼﺒﺮ ﻭاﻟﺤﻠﻢ ﻭﻣﻼﻃﻔﺔ اﻟﻨﺎﺱ ﻣﺎ ﻟﻢ ﺗﺪﻉ ﺣﺎﺟﺔ ﺇﻟﻰ اﻟﻤﺨﺎﺷﻨﺔ

Di dalam hadits ini terdapat motivasi untuk berlaku ramah, sabar, santun, dan berlemah lembut terhadap manusia, selama tidak ada kebutuhan (yang dibolehkan) yang mendorong untuk berlaku keras.
📚(Syarh Shahih Muslim:14/145)

Wahai saudaraku, sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mengajarkan agar engkau berinteraksi dan bergaul dengan masyarakat dan bersabar atas gangguan mereka.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

َ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ

“Seorang mukmin yang berbaur (berinteraksi) dengan manusia dan bersabar atas keburukan mereka, lebih besar pahalanya daripada seorang mukmin yang tidak berbaur (berinteraksi) dengan manusia dan tidak sabar atas keburukan mereka.”
(HR.Ibnu Majah, Shahih Lighairih)

Berkata Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah:
Ketahuilah wahai muslim! bahwa pondasi dalam kehidupan kaum muslimin adalah kerjasama dalam menjalankan ibadah-ibadah, dan menegakkan kewajiban-kewajiban Islam dan syariat-syariatnya.

Hal ini tidak akan terwujud kecuali dengan adanya pergaulan/interaksi diantara mereka. Berinteraksi bersama masyarakat muslim karena tujuan ini adalah sesuatu yang dituntut secara syariat, maka tidak boleh seorang muslim meninggalkannya.
📚At-Tanbih Al-Hasan Fi Mauqifil-Muslim Minal-Fitan:15

Berkata Al-Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah:

ﻓﺨﻴﺮ اﻟﻨﺎﺱ ﺃﻧﻔﻌﻬﻢ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﻭﺃﺻﺒﺮﻫﻢ ﻋﻠﻰ ﺃﺫﻯ اﻟﻨﺎﺱ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat kepada manusia dan paling bersabar atas gangguan mereka.”
📘(latha’if Al-Ma’arif:515, dinukiil dari “Allahu Yu’amiluk kama Tu’amilu Ibadah”:12)

Wahai saudara(i)ku, tidakkah engkau menginginkan kebaikaan dan hidayah kepada saudara(i)mu sebagaimana engkau menginginkan kebaikan untuk dirimu?

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah beriman seseorang dari kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri”.
(HR.Al-Bukhari dan Muslim)

Semoga hal ini menjadi titik perhatian bagi kita dan banyak mengintropeksi diri menuju Ahlussunnah yang beraqidah bersih, bermanhaj lurus, dan beradab mulia.

وبالله التوفيق.

🗓19 Jumadats-Tsaniyah 1440
✍🏻Muhammad Abu Muhammad Pattawe,
🕌Darul-Hadits Ma’bar-Yaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *